Refleksi Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026 Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo–Gibran: Antara Janji, Harapan, dan Kenyataan
Oleh: Khairul Koordinator Wilayah Jawa Gerakan Pemuda Islam
Jakarta, Bupolo.com - 28 Oktober bukan sekadar tanggal dalam kalender nasional. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah berdiri di atas keberanian para pemuda yang berani melampaui perbedaan demi satu cita-cita: Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.
Namun, hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, pertanyaan penting harus kita ajukan: apakah semangat perjuangan itu masih hidup dalam kebijakan negara hari ini? Dan apakah masa depan yang dijanjikan kepada generasi muda benar-benar sedang diwujudkan. Selasa, 27/10/2026.
Di momentum Hari Sumpah Pemuda 2026, izinkan kami menyampaikan sebuah surat cinta untuk negeri, sekaligus surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang telah memasuki dua tahun kepemimpinan sejak Oktober 2024.
Surat ini bukan lahir dari kebencian. Ia lahir dari kecintaan terhadap Indonesia, dari kegelisahan melihat persoalan rakyat, dan dari harapan agar kekuasaan benar-benar menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan seluruh bangsa.
Bapak Presiden dan Wakil Presiden, dua tahun bukan waktu yang singkat untuk mulai menunjukkan arah perubahan.
Rakyat tidak hanya membutuhkan janji, slogan, dan program yang terdengar megah. Rakyat membutuhkan hasil nyata yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak muda membutuhkan lapangan pekerjaan yang layak, bukan sekadar imbauan agar terus meningkatkan kompetensi. Lulusan perguruan tinggi membutuhkan kesempatan bekerja, bukan hanya kebanggaan atas gelar akademik. Pelaku UMKM membutuhkan akses modal, pasar, dan perlindungan usaha, bukan sekadar jargon naik kelas. Petani dan nelayan membutuhkan kepastian kesejahteraan, harga yang adil, serta perlindungan dari kebijakan yang merugikan mereka.
Pertanyaannya sederhana: sejauh mana kebijakan pemerintah telah menjawab kebutuhan tersebut?
Program boleh diluncurkan, anggaran boleh digelontorkan, dan laporan keberhasilan boleh dipublikasikan. Namun, ukuran keberhasilan pemerintahan pada akhirnya adalah perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat, dengan data yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan sampai negara terlihat sibuk bekerja, tetapi rakyat masih sibuk bertahan hidup.
Kami memahami bahwa membangun bangsa bukan pekerjaan mudah. Persoalan ekonomi, ketimpangan sosial, pengangguran, pendidikan, dan ketahanan pangan tidak bisa diselesaikan dalam semalam. Namun, justru karena persoalannya besar, pemerintah harus berani menetapkan prioritas, membuka ruang evaluasi, dan mengakui kekurangan.
Kepemimpinan bukan tentang selalu terlihat benar. Kepemimpinan adalah keberanian memperbaiki sesuatu yang belum benar.
Bapak Presiden dan Wakil Presiden.
Kami juga ingin mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh berhenti pada pemilihan umum. Demokrasi harus hidup dalam kebebasan menyampaikan pendapat, ruang kritik yang terbuka, serta keberanian masyarakat untuk mengawasi jalannya kekuasaan.
Mahasiswa yang menyampaikan kritik bukan musuh negara. Aktivis yang mempertanyakan kebijakan bukan ancaman bagi persatuan. Rakyat yang menuntut pertanggungjawaban bukan berarti membenci pemerintah.
Justru sebaliknya, mereka sedang menjalankan hak konstitusionalnya sebagai warga negara.
Sumpah Pemuda mengajarkan persatuan, tetapi persatuan bukan berarti semua orang harus diam dan menyetujui pemerintah. Persatuan adalah kesediaan untuk memperjuangkan kepentingan bersama, meskipun kita memiliki pandangan yang berbeda.
Karena itu, kami berharap dua tahun kepemimpinan Prabowo–Gibran menjadi momentum untuk memperkuat demokrasi, memperbaiki tata kelola pemerintahan, memberantas korupsi secara adil, dan memastikan bahwa hukum tidak tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Jangan biarkan jabatan melahirkan jarak antara penguasa dan rakyat. Jangan biarkan kritik dianggap sebagai gangguan. Dan jangan biarkan kepentingan politik mengalahkan kepentingan bangsa.
Sebab, negara ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi kepentingan segelintir orang.
Pada Hari Sumpah Pemuda ini, kami tidak meminta pemerintah menjadi sempurna. Kami meminta pemerintah bersedia dievaluasi. Kami tidak menuntut semua persoalan selesai seketika. Kami menuntut kesungguhan, keterbukaan, dan keberpihakan yang dapat dibuktikan.
Jika program berhasil, tunjukkan hasilnya secara transparan. Jika kebijakan tidak mencapai sasaran, perbaiki. Jika ada pejabat yang gagal menjalankan amanah, lakukan evaluasi. Jika rakyat menyampaikan kritik yang beralasan, dengarkan dengan lapang dada.
Dua tahun kepemimpinan seharusnya menjadi kesempatan untuk menjawab pertanyaan rakyat, bukan sekadar merayakan perjalanan kekuasaan.
Kepada generasi muda Indonesia, jangan pernah kehilangan keberanian untuk berpikir kritis. Jangan menjual idealisme hanya demi kedekatan dengan kekuasaan. Jangan pula membiarkan perbedaan pilihan politik memecah persaudaraan kita.
Kita boleh berbeda pilihan, berbeda organisasi, dan berbeda pandangan. Namun, kita memiliki tanggung jawab yang sama: menjaga Indonesia agar tetap menjadi rumah yang adil bagi seluruh rakyatnya.
Para pemuda 1928 telah meninggalkan warisan berupa persatuan dan keberanian. Tugas kita hari ini adalah meneruskan warisan itu melalui pendidikan, kerja nyata, pengawasan terhadap kekuasaan, dan perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.
Kepada Prabowo–Gibran, inilah surat cinta kami: jangan hanya meminta generasi muda percaya kepada masa depan, tetapi bangunlah kebijakan yang membuat mereka memiliki alasan untuk percaya.
Sebab cinta kepada negeri tidak cukup diucapkan dalam upacara. Ia harus dibuktikan melalui keberanian membela rakyat, kesediaan menerima kritik, dan kesungguhan mewujudkan keadilan sosial.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa. Sejarah juga akan mencatat bagaimana kekuasaan itu digunakan, siapa yang merasakan manfaatnya, dan persoalan apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Semoga semangat 1928 tidak berhenti menjadi kenangan, tetapi terus hidup dalam keberanian pemuda untuk mengawal demokrasi dan memperjuangkan masa depan bangsa.
Kami mencintai Indonesia. Karena itulah kami tidak ingin diam ketika rakyat masih menghadapi ketidakadilan. Salam Pemuda. Salam Perubahan. Salam Indonesia.


Posting Komentar