Menakar Kembali Politik Perlindungan Anak Kita, Ibu Itu Meninggal di Sepeda Motornya
Oleh ; Ahmad Daud S.Sos (Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam)
Bupolo.com - Lu'lu Atunni'mah, seorang ibu tunggal berusia 38 tahun asal Ponorogo. Setelah meninggal suaminya, ia menjadi tulang punggung bagi anak-anaknya. Sabtu, 17 Oktober 2026 M seorang ibu tunggal yang sedang bersusah payah merawat keluarganya itu meninggal di sepeda motor ketika dalam rencana berangkat pengobatan.
Duka satu ibu bukan hanya duka satu keluarga tapi ini adalah cermin potret bangsa kita dalam menjamin masa depan anak. Tidak akan mungkin seorang ibu akan begitu bersusah payah membesarkan anak-anaknya sepeninggal suaminya jika negara mampu mendeteksi sejak dini untuk memproteksi.
Regulasi ada, dasar hukum untuk mengambil kebijakan ada tapi begitu bicara dalam postur anggaran, sulit kita lihat secara utuh dari hulu hingga hilir komprehensifitas perlindungan anak di negeri ini.
Coba anda deteksi sendiri, berapa anggaran untuk anak disabilitas, berapa anggaran untuk anak yang hari ini bertarung dijalanan, coba anda lihat berapa anggaran untuk ruang tumbuh sosial anak?
Tidak perlu dicermati karena kebijakan untuk itu amat minim. Postur anggaran kita lebih memproyeksikan pengadaan kendaraan dinas tiap tahun, bangun gedung tiap tahun tapi tentunya bukan gedung terapi untuk anak disabilitas atau boarding school untuk anak yang terjerembab dijalanan.
Ini belum lagi kita bicara tentang bagaimana anak-anak menghadapi bencana. Berapa shelter khusus yang representatif untuk anak di tiap daerah Indonesia ? Saya rasa akan amat minim dilapangan kalau malah bisa dikatakan tiada sama sekali.
Maka ketika kita hari ini melihat seorang ibu tunggal meninggal diatas sepeda motor, itu bukan sekedar kejadian kasuistis. Itu merupakan gunung es dari masih parahnya jaring deteksi dini dan proteksi untuk perlindungan ibu tunggal dan anak-anak yang telah ditinggalkan suami dan ayahnya.
Dengan sebuah pejabat dinas saya pernah bertanya. Jika seorang pria meninggal menjadi korban begal. Apakah sistem kita langsung menyalakan sebuah peringatan akan adanya potensi keluarga yang bakal menjadi papa ? Tersenyum masygul dia menjawab. Belum sejauh itu sistem kita, bang.
Politik perlindungan anak di negeri ini lebih bermakna lip service hampir di semua tingkatan pemerintahan. Kalau bicara regulasi perlindungan anak di Indonesia ini sudah sangat cukup komprehensif.
Tapi tidak dalam tahap eksekusi. Jutaan jiwa hari ini anak-anak pesisir kesulitan akses pendidikan. Jutaan anak kota minim ruang tumbuh kembang sosialnya. Akibatnya para anak kota rentan terjerembab dalam kriminalitas. Anak pesisir terjerembab dalam rantai kemiskinan. Sudah sejauh manakah pemangku anggaran melakukan terobosan memutus lingkaran setan ini?
Apa yang harus dirubah segera?
Dalam konteks pengambilan keputusan. Pemerintahan semua tingkatan harus mengoreksi dan mengidentifikasi serta memberi solusi yang tepat untuk masalah anak di daerahnya. Satu masalah di daerah tertentu, kadang bukan jadi permasalahan di daerah lain.
Fokus pada program inovasi yang tepat, lakukan refocusing anggaran, kegiatan copy paste dari tahun ke tahun dihilangkan karena kebanyakan kegiatan tersebut lebih banyak hanya tontonan panggung daripada berdampak langsung pada anak.
Pemimpin yang kuat kepedulian itu bukan hanya sejauh mana dia mampu mengartikulasikan kebijakan dalam kata. Tapi juga mampu mengeksekusinya menjadi benar-benar terdampak bagi masa depan anak di daerahnya.
Karena terkadang kecelakaan itu bukan karena pengendara yang ceroboh, tapi karena sang pemimpin yang sibuk dengan kendaraan dinasnya tapi alpa menambal lubang jalan yang dilewati rakyatnya. Disinilah kita menemukan relevansi perkataan Umar bin Khattab; jika seekor unta terjerembab di lubang, maka celakalah Ibnul Khattab di hari hisab.
Nah tentang anak, sudah berapa keluarga dan anak di negeri ini yang terjerembab dalam penderitaan, kemiskinan, kriminalitas, eksploitasi dan kebodohan gegara lubang - lubang perlindungan yang keropos akibat lambannya eksekusi dari para pimpinan kekuasaan?
Yang dibutuhkan anak - anak bukan hanya 1 hari peringatan perayaan seremonial undangan tapi ada 364 hari lagi dalam tiap tahun mereka butuhkan proteksi perlindungan yang komprehensif dari negara yang mereka berdiam di dalamnya. Karena jika tidak, maka jangan salahkan ketika mereka dewasa akan berkurang wawasan kebangsaannya.


Posting Komentar