Menjemput Kembali Genealogi Intelektual HMI Komisariat Ekonomi dan Bisnis Unpatti
Oleh: Ril Mahulauw
Kandidat Ketua Komisariat Ekonomi dan Bisnis
Ambon, Bupolo.com - Menjelang momentum penentuan kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura, Ril Mahulauw Kandidat Ketua Komisariat Ekonomi dan Bisnis (Unpatti) menyampaikan perhatian kepada kader agar kembali diarahkan pada pentingnya menghidupkan tradisi intelektual sebagai fondasi utama organisasi, Kamis (10/9/2026).
Momentum regenerasi kepemimpinan dinilai tidak semestinya dipandang sebatas kontestasi elektoral, tetapi harus menjadi ruang evaluasi terhadap arah kaderisasi, tradisi berpikir, serta keberpihakan organisasi terhadap persoalan umat dan bangsa.
Sejarah HMI sendiri tidak pernah lahir dari ruang yang steril dari realitas. HMI tumbuh dari pergulatan gagasan, benturan pemikiran, dinamika sosial, serta kegelisahan terhadap kondisi umat dan bangsa. Dalam konteks tersebut, “jalanan” dapat dimaknai sebagai ruang dialektika terbuka, tempat mental kader ditempa, gagasan diuji, dan komitmen kebangsaan dibuktikan. Ujarnya"
Karena itu, refleksi terhadap khittah perjuangan HMI menjadi penting di tengah dinamika organisasi hari ini. HMI membutuhkan kesadaran kritis yang mampu melampaui kepentingan kontestasi dan kepemimpinan jangka pendek.
Ril juga menyampaikan untuk memahami arah tersebut, tradisi intelektual Ahmad Wahib menjadi salah satu rujukan penting dalam refleksi kader HMI. Ahmad Wahib dikenal sebagai sosok pengembara intelektual yang tidak berhenti pada doktrin dan kemapanan berpikir. Ia terus membaca, berdiskusi, mempertanyakan berbagai persoalan, serta merawat kegelisahan intelektualnya.
Tradisi tersebut memberikan pelajaran bahwa kader HMI tidak cukup hanya memiliki kemampuan organisatoris. Kader juga dituntut memiliki keberanian intelektual untuk membaca realitas, mempertanyakan keadaan, menguji gagasan, dan mencari jalan keluar atas persoalan masyarakat.
Semangat pencarian tersebut kemudian menjadi bagian penting dari genealogi intelektual HMI yang perlu terus dirawat oleh generasi kader saat ini. Komisariat Ekonomi dan Bisnis Unpatti sebagai Ruang Kaderisasi.
Narasi pengembaraan intelektual dan militansi organisasi kemudian dikaitkan dengan perjalanan HMI Komisariat Ekonomi dan Bisnis Unpatti di lingkungan HMI Cabang Ambon.
Komisariat Ekonomi dan Bisnis tidak hanya dipandang sebagai struktur administratif organisasi, tetapi sebagai ruang kaderisasi yang memiliki sejarah dalam melahirkan kader-kader dengan perhatian terhadap persoalan intelektual dan sosial.
Jejak para mantan ketua komisariat serta kader-kader terdahulu menjadi bagian dari sejarah yang dianggap penting untuk terus dibaca dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Latar belakang keilmuan ekonomi juga dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk kader yang mampu membaca persoalan masyarakat secara lebih kritis. Ilmu ekonomi tidak seharusnya hanya melahirkan teknokrat yang berorientasi pada angka dan kebijakan, tetapi juga intelektual yang mampu membedah persoalan ketimpangan, kemiskinan, distribusi sumber daya, serta berbagai persoalan sosial lainnya.
Sejarah Tidak Boleh Berhenti sebagai Romantisme namun, sejarah organisasi tidak seharusnya berhenti sebagai romantisme masa lalu. Kejayaan pemikiran dan militansi para pendahulu perlu diterjemahkan kembali ke dalam kehidupan struktural organisasi hari ini. HMI Komisariat Ekonomi dan Bisnis Unpatti didorong untuk kembali memperkuat budaya membaca, diskusi, kajian, dan gerakan sosial.
Komisariat idealnya menjadi laboratorium tempat gagasan diuji, perbedaan pemikiran dipertemukan secara sehat, dan berbagai persoalan masyarakat dibicarakan secara ilmiah sekaligus praksis.
Dengan demikian, struktural organisasi tidak hanya menjadi tempat menjalankan agenda administratif, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan intelektualitas kader. Menjelang momentum penentuan kepemimpinan, seluruh kader HMI Komisariat Ekonomi dan Bisnis Unpatti diharapkan mampu melakukan penilaian secara lebih jeli, objektif, dan kritis.
Pilihan kepemimpinan tidak semestinya ditentukan hanya berdasarkan kedekatan personal, kepentingan pragmatis, atau retorika tanpa substansi. Kader perlu melihat lebih jauh kapasitas, gagasan, komitmen, serta kemampuan setiap calon dalam menjawab kebutuhan organisasi.
Apakah organisasi hanya membutuhkan figur yang mampu memenangkan kontestasi, atau membutuhkan sosok yang mampu menghidupkan kembali tradisi intelektual dan gerakan. Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kepemimpinan bukan hanya mengenai siapa yang duduk di posisi struktural, tetapi juga tentang arah yang akan dibawa organisasi selama satu periode ke depan.
Membaca, Berdiskusi, dan Bergerak pada akhirnya, sebuah gugatan kultural perlu diarahkan kepada seluruh kader. Organisasi yang dibangun oleh tradisi intelektual membutuhkan individu-individu yang memiliki semangat belajar dan membaca. Ia membutuhkan kader yang tidak takut berdiskusi, tidak sensitif terhadap perbedaan pemikiran, serta memiliki keberanian untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi gerakan.


Posting Komentar