Redesain Pelatihan Calon Manajer KDMP Dinilai Perlu Berbasis Kompetensi, Bukan Sekadar Pendekatan Militer
Bupolo.com – Pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) Mulya H. Zain Putuhena - Mahasiswa Pascasarjana UIN Surakarta menyampaikan pendekatan militer memunculkan perdebatan di kalangan akademisi dan praktisi manajemen. Meski pemerintah menyatakan pelatihan tersebut bertujuan membentuk disiplin, kepemimpinan, integritas, kerja sama tim, dan etos kerja, sejumlah kajian menilai desain pelatihan perlu lebih menitikberatkan pada pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan jabatan manajerial. Jumat, 3/Juli/2026.
Dalam perspektif ilmu manajemen, efektivitas pelatihan tidak hanya diukur dari tujuan normatif yang ingin dicapai, tetapi juga dari kesesuaian metode pembelajaran dengan karakter pekerjaan, struktur organisasi, serta kompetensi yang dibutuhkan oleh peserta.
Manajer koperasi pada dasarnya bertugas mengelola operasional usaha, memimpin sumber daya manusia, mengendalikan keuangan, mengembangkan bisnis, serta mempertanggungjawabkan kinerja kepada pengurus dan anggota koperasi. Dengan karakter pekerjaan tersebut, kemampuan manajerial, komunikasi, pengambilan keputusan, dan inovasi dinilai lebih dominan dibandingkan kemampuan yang bersifat fisik maupun kepatuhan terhadap pola komando.
Mulya H. Zain Putuhena - Mahasiswa Pascasarjana UIN Surakarta Juga menjelaskan secara teoritis, Widodo (2018) menjelaskan bahwa pelatihan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, pemahaman, dan motivasi kerja sesuai kebutuhan organisasi. Sementara itu, Dessler (2020) menekankan bahwa pelatihan bertujuan membekali pegawai dengan kemampuan praktis agar mampu meningkatkan produktivitas dan mencapai tujuan organisasi secara efektif. Jumat, 3/Juli/2026.
Berangkat dari konsep tersebut, pelatihan idealnya disusun berdasarkan kebutuhan jabatan (job requirements) sehingga materi yang diberikan memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan yang akan dijalankan peserta.
Dinilai Belum Sepenuhnya Selaras
Sejumlah pengamat menilai aktivitas seperti baris-berbaris, apel, maupun latihan fisik memiliki nilai dalam membentuk disiplin dan ketahanan mental. Namun, efektivitas metode tersebut bagi calon manajer koperasi dinilai perlu dikaji lebih jauh karena pekerjaan sehari-hari lebih banyak berkaitan dengan administrasi, pengelolaan keuangan, pelayanan anggota, pemasaran, pengembangan usaha, dan pengambilan keputusan.
Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia (human resource development), kesesuaian antara materi pelatihan dan tuntutan pekerjaan menjadi faktor penting agar proses pembelajaran dapat diterapkan secara nyata di lingkungan kerja.
Kajian pelatihan SDM juga menunjukkan bahwa pelatihan yang efektif harus diawali dengan analisis kebutuhan jabatan, menggunakan metode pembelajaran yang relevan, serta dievaluasi secara sistematis agar mampu meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan kinerja organisasi.
Perlu Menjaga Karakter Demokratis Koperasi
Koperasi dibangun atas prinsip demokrasi ekonomi, musyawarah, partisipasi anggota, dan akuntabilitas kolektif. Sebaliknya, organisasi militer mengedepankan struktur hierarkis, komando, dan kepatuhan yang ketat.
Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Subarsono, sebelumnya menilai pendekatan militer dalam program sipil berpotensi menggeser budaya koperasi dari partisipasi menuju komando. Pandangan tersebut memperkuat pentingnya menjaga keseimbangan antara pembentukan disiplin dengan penguatan kepemimpinan partisipatif yang menjadi karakter utama organisasi koperasi. Ucapnya pada Jumat, 3/Juli/2026.
Menurut sejumlah kajian manajemen, kepemimpinan partisipatif lebih sesuai diterapkan dalam organisasi berbasis anggota karena mampu mendorong komunikasi yang terbuka, inovasi, serta keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan.
Kompetensi Manajerial Dinilai Lebih Mendesak
Di tengah tantangan ekonomi desa yang semakin kompleks, calon manajer KDMP dinilai perlu dibekali kemampuan yang lebih komprehensif.
Kompetensi tersebut meliputi tata kelola koperasi, manajemen sumber daya manusia, pengelolaan keuangan digital, kewirausahaan, inovasi model bisnis, komunikasi organisasi, pemasaran digital, negosiasi, hingga penyelesaian konflik.
Pelatihan berbasis kompetensi dipandang lebih mampu menghasilkan manajer yang profesional karena seluruh materi dirancang sesuai kebutuhan jabatan dan kondisi nyata yang akan dihadapi di lapangan.
Selain substansi pelatihan, aspek keselamatan peserta juga menjadi perhatian publik
Sejumlah pemberitaan media melaporkan adanya peserta yang meninggal dunia selama mengikuti pelatihan. Apabila hasil investigasi resmi membenarkan laporan tersebut, evaluasi terhadap standar keselamatan, manajemen risiko, serta proporsionalitas metode pelatihan dinilai menjadi langkah yang penting dilakukan.
Dalam pengembangan sumber daya manusia, efektivitas pelatihan tidak hanya diukur dari pembentukan disiplin, tetapi juga dari manfaat terhadap peningkatan kompetensi, keamanan peserta, serta dampaknya terhadap kinerja organisasi.
Perlu Redesain Kurikulum
Sejumlah akademisi menilai pelatihan calon manajer KDMP akan lebih efektif apabila menggunakan pendekatan berbasis kompetensi melalui metode andragogi, studi kasus, simulasi bisnis, mentoring, serta praktik lapangan di koperasi yang telah berhasil.
Materi pelatihan dapat difokuskan pada akuntansi koperasi, pengelolaan kas, tata kelola organisasi, kepemimpinan partisipatif, komunikasi organisasi, pemasaran digital, transformasi digital, inovasi layanan, dan manajemen konflik.
Nilai disiplin tetap dinilai penting untuk dipertahankan. Namun, implementasinya lebih diarahkan pada ketepatan waktu, akuntabilitas laporan, transparansi pengelolaan usaha, kepatuhan terhadap tata kelola organisasi, serta konsistensi pelayanan kepada anggota.


Posting Komentar