Ad

 


Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"

Gambar: Kompas.com

Bupolo.com
  – Presiden Prabowo Subianto meminta agar telur dadar tidak lagi disajikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, penyajian telur dalam bentuk dadar berpotensi mengurangi kandungan gizi karena sering dicampur dengan tepung atau bahan tambahan lainnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri kegiatan Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6). Kegiatan itu dihadiri 12.173 peserta yang terdiri dari Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG), Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta mitra program MBG.

"Yang kedua, telur jangan bikin dadar. Kalau telur dadar, kalau telur dadar, saya sudah lama jadi orang Indonesia, kalau telur dadar, nanti dicampur macam-macam itu, iya, kan? Tepungnya lebih banyak dari telurnya," kata Prabowo.

Ia menegaskan bahwa telur yang disajikan dalam program MBG harus tetap utuh agar kandungan gizinya terjaga.

"Jadi, telur harus utuh, ceplok, atau rebus. Betul, ya? Mendikdasmen, kepala sekolah, guru, yakinkan tidak ada lagi telur dadar atau telur apa itu? Orek-orek," ujarnya.

Prabowo juga meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, kepala sekolah, serta para guru untuk ikut mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut.

"Sanggup? Awas, lho. Aku, nanti aku, aku doakan kualat," sambungnya.

Selain telur, Presiden turut menyoroti ukuran potongan ayam yang disajikan kepada para penerima manfaat MBG. Ia memperlihatkan contoh ayam yang dipotong menjadi delapan bagian dan 14 bagian, serta menilai potongan yang terlalu kecil tidak layak diberikan kepada anak-anak.

"Yang kiri adalah ayam dipotong 14. Yang ini delapan, yang kanan delapan. Jadi, yang 14 saja sebesar ini. Kalau kecil begini, ya, berapa? Jangan-jangan 18 atau 22. Hah?" ucapnya.

Prabowo menegaskan agar dapur MBG tidak menyajikan ayam dengan ukuran yang terlalu kecil. Ia bahkan meminta sekolah dan siswa untuk melaporkan apabila menemukan porsi ayam yang tidak sesuai standar.

"Kalau potong lebih dari 14, dosa! Dosa! Berapa juta anak-anak Indonesia akan kecewa? Betul? Benar, ya? Nanti saya minta, ya, Menteri Pendidikan, Mendikdasmen, minta kepala-kepala sekolah, guru-guru, anak-anaknya suruh lapor. Ayamnya kecil atau besar? Kalau perlu secara random difoto dan ditimbang, ya," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo meminta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan para Kepala SPPG untuk turut melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.

"Kepala Dapur SPPI, kalian bertanggung jawab untuk mengawasi. Jangan kau larut ikut main-main juga enggak benar. Benar, jangan anggap enteng. Mata dan telinga saya ada di mana-mana," pungkas Prabowo.

Pemerintah terus menekankan pentingnya pengawasan dan standar kualitas dalam Program Makan Bergizi Gratis guna memastikan setiap penerima manfaat memperoleh asupan gizi yang sesuai dan berkualitas.

Sebelumnya, Program Makan Bergizi Gratis menjadi sorotan setelah Kejaksaan Agung mengusut dugaan korupsi dalam tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam perkembangan kasus tersebut, mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama sejumlah pejabat lainnya telah dijemput penyidik dan ditetapkan sebagai tersangka. 

Pemerintah kemudian melakukan pergantian pimpinan BGN sebagai bagian dari upaya pembenahan kelembagaan dan penguatan pengawasan program yang menjadi salah satu prioritas nasional Presiden Prabowo.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"
  • Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"
  • Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"
  • Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"
  • Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"
  • Prabowo: "Telor Jangan di Dadar"

Posting Komentar