Ad

 


KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!


Bupolo.com – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), organisasi mahasiswa yang lahir di tengah gelombang Reformasi 1998, dinilai tengah menghadapi tantangan serius dalam menjaga idealisme perjuangannya di tengah dinamika internal yang semakin kompleks. Kamis, 25/6/2026.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Kader KAMMI Maluku, Muhammad Fathir Patty, yang menilai bahwa organisasi yang dahulu dikenal sebagai salah satu motor gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan demokrasi kini dihadapkan pada ancaman yang datang dari dalam tubuh organisasi sendiri.

"KAMMI lahir bukan dari ruang yang nyaman, tetapi dari situasi bangsa yang diliputi krisis dan ketidakadilan pada masa Orde Baru. Organisasi ini menjadi simbol perlawanan kaum muda Muslim terhadap otoritarianisme serta wadah perjuangan yang menggabungkan nilai keislaman, kebangsaan, dan aktivisme sosial," ujar Fathir dalam keterangannya. Kamis, 25/6/2026

Menurutnya, pada masa awal berdiri, KAMMI dikenal sebagai organisasi kader dengan disiplin yang kuat, orientasi perjuangan yang jelas, serta komitmen terhadap perubahan sosial. Kader-kadernya dibina melalui penguatan aspek ruhiyah, jasadiyah, dan fikriyah sehingga mampu berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Namun, seiring perubahan zaman, tantangan yang dihadapi organisasi juga berubah. Jika pada masa Reformasi yang dihadapi adalah sistem kekuasaan yang represif, kini ancaman muncul dalam bentuk ego sektoral, persaingan kepentingan, perebutan pengaruh, hingga fragmentasi internal.

Fathir menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari dinamika demokrasi. Akan tetapi, ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi pertarungan kepentingan yang mengorbankan persatuan organisasi, maka kondisi tersebut dapat mengarah pada disintegrasi.

"Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di KAMMI, tetapi juga dialami banyak organisasi mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, bahkan partai politik. Ketika orientasi perjuangan bergeser dari kepentingan publik menuju kepentingan kelompok tertentu, konflik internal menjadi sulit dihindari," katanya.

Ia menilai gejala tersebut dapat terlihat dari mulai bergesernya loyalitas terhadap gagasan menjadi loyalitas terhadap figur. Ruang musyawarah yang semestinya menjadi tempat bertukar pikiran berubah menjadi arena kompetisi, sementara kritik dan perbedaan pendapat sering kali dipandang sebagai ancaman.

Akibatnya, energi organisasi yang seharusnya digunakan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa justru tersita untuk menyelesaikan konflik internal. Kader menjadi lebih fokus mengamankan posisi dibanding meningkatkan kapasitas diri, sementara kepemimpinan lebih banyak diukur dari kemampuan membangun jaringan pengaruh daripada melahirkan gagasan.

Dalam situasi tersebut, Fathir mengajak seluruh kader untuk melakukan refleksi terhadap arah perjuangan organisasi.

"Pertanyaannya, apakah KAMMI masih setia pada semangat kelahirannya? Ini bukan untuk menjatuhkan organisasi, tetapi sebagai bentuk evaluasi agar KAMMI tetap relevan menghadapi tantangan zaman," ujarnya pada Kamis, 25/6/2026.

Menurut dia, organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral yang bebas dari kepentingan kekuasaan. Karena itu, organisasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan kritis yang mampu mengoreksi arah perjalanan bangsa.

Ia menekankan bahwa kekuatan utama KAMMI bukan terletak pada besarnya pengaruh politik yang dimiliki, melainkan pada kualitas kader yang dihasilkan.

"Organisasi akan dihormati bukan karena kedekatannya dengan pusat kekuasaan, tetapi karena kontribusinya dalam melahirkan pemimpin yang berintegritas," tegasnya.

Lebih lanjut, Fathir menilai bahwa perpecahan yang terjadi akibat kepentingan bukan sekadar persoalan struktural, melainkan persoalan nilai. Ketika nilai-nilai dasar organisasi tidak lagi menjadi pedoman bersama, maka kepentingan kelompok dan individu berpotensi menggeser tujuan perjuangan yang lebih besar.

Karena itu, ia mendorong adanya rekonsiliasi, dialog, dan penguatan budaya intelektual sebagai langkah untuk mengembalikan arah organisasi.

"KAMMI harus kembali menjadi rumah besar bagi gagasan, bukan arena pertarungan kepentingan. Menjadi ruang kaderisasi, bukan ruang polarisasi," katanya.

Fathir menegaskan bahwa masa depan KAMMI tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat dalam perebutan pengaruh, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga idealisme organisasi.

"KAMMI lahir dari semangat perubahan. Akan menjadi tragedi besar jika organisasi yang dibangun dengan perjuangan dan pengorbanan itu justru pecah karena kepentingan segelintir orang," pungkasnya.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!
  • KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!
  • KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!
  • KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!
  • KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!
  • KAMMI: Berjuang Dengan Darah, Terancam Pecah Karena Kepentingan Internal!

Posting Komentar