Menyembah Kenyamanan, Mengubur Harga Diri
“Menyembah Kenyamanan, Mengubur Harga Diri” Oleh : Daud Solisa (Aktivis Jakarta)
Bupolo.com - Tragedi kemanusiaan yang paling sunyi hari ini adalah ketika piring yang penuh menjadi berhala baru, sementara harga diri dianggap sebagai beban yang harus segera dibuang ke tempat sampah.
Ironi terbesar dari keadaan ini adalah ketika rasa lapar tidak lagi sekadar soal perut, melainkan telah menjalar menjadi kelaparan akan keberanian. Keberanian untuk berkata tidak, keberanian untuk berdiri tegak meski tanpa jaminan apa-apa. Kita menyaksikan bagaimana ketakutan perlahan menggantikan prinsip, dan kompromi menjadi bahasa sehari-hari yang dianggap wajar, bahkan bijak.
Lebih menyedihkan lagi, kondisi ini tidak hanya hidup di ruang-ruang kekuasaan, tetapi juga merembes ke lapisan masyarakat paling bawah. Generasi yang seharusnya tumbuh dengan semangat perubahan justru diajarkan untuk tunduk sebelum mencoba. Mereka dibesarkan dalam logika bahwa bertahan hidup lebih penting daripada hidup dengan nilai. Akibatnya, idealisme dianggap sebagai kemewahan yang hanya layak dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal lapar.
Padahal, sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang memilih nyaman dalam ketertundukan. Peradaban besar lahir dari kegelisahan, dari keberanian menolak menjadi sekadar alat. Ketika manusia berhenti memperjuangkan martabatnya, saat itulah ia perlahan kehilangan makna kemanusiaannya sendiri. Kenyang tanpa kehormatan hanyalah bentuk lain dari kekosongan yang dibungkus rapi.
Maka pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang memberi makan, tetapi tentang apa yang kita korbankan untuk itu. Sebab pada akhirnya, harga diri yang sekali dijual tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan harga berapa pun. Dan ketika semua orang memilih diam demi kenyamanan, dunia akan dipenuhi oleh mereka yang kenyang, tetapi kehilangan arah dan makna.


Posting Komentar