
Istimewa.
Bupolo.com - Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru, Iskandar Ahmad, menghadiri kegiatan Gebyar 7 Likur Bupolo Berseri 1447 Hijriah yang digelar Pemerintah Kabupaten Buru di Lapangan Pattimura, Namlea, Senin malam (16/3/2026).
Kegiatan yang memadukan nuansa religius dan budaya ini diprakarsai langsung oleh Bupati Buru, Ikram Umasugi, S.E., sebagai upaya memperkuat nilai-nilai spiritual sekaligus melestarikan tradisi keagamaan masyarakat menjelang penghujung bulan suci Ramadan.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Buru Sudarmo, M.Si., Ketua TP PKK Kabupaten Buru Ny. Mohrah Ikram Umasugi, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, Sekretaris DPRD, para Asisten Setda, pimpinan OPD, camat, kepala desa, serta tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda.
Suasana khidmat kian terasa saat ribuan warga yang memadati Lapangan Pattimura menyalakan pelita dan lampu damar secara serentak. Cahaya-cahaya kecil yang berpendar di malam Ramadan itu menjadi simbol penerang hati sekaligus harapan bagi kehidupan masyarakat.
Tradisi Malam Tujuh Likur, yang identik dengan malam-malam terakhir Ramadan, telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Buru. Selain sebagai bentuk syiar Islam, tradisi ini juga menjadi ruang kebersamaan yang mempererat ikatan sosial antarwarga.
Dalam momentum tersebut, Bupati Ikram Umasugi mengajak masyarakat memadamkan lampu selama kurang lebih 15 menit guna menciptakan suasana hening dan reflektif. Ajakan itu disambut penuh kesadaran, membuat Kota Namlea sejenak tenggelam dalam keheningan yang hanya diterangi cahaya pelita dan damar.
Keheningan itu menghadirkan ruang kontemplasi spiritual, mengingatkan masyarakat akan keagungan malam-malam terakhir Ramadan yang diyakini sarat keberkahan.
“Tradisi Malam Tujuh Likur ini bukan sekadar simbol budaya, tetapi juga momentum untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan keimanan, serta menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat Buru,” ujar Ikram dalam sambutannya.
Ia menegaskan, kegiatan ini sejalan dengan visi pembangunan daerah Buru Berseri, yang menitikberatkan pada pembentukan karakter masyarakat yang religius, berbudaya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
Sementara itu, Iskandar Ahmad menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tradisi religius seperti Malam Tujuh Likur memiliki nilai pendidikan spiritual yang penting, terutama bagi generasi muda.
“Tradisi ini tidak hanya memperkuat syiar Islam, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial dan spiritual. Nilai kebersamaan, ketenangan, dan refleksi diri yang hadir sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran religius di tengah kehidupan modern,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keterlibatan berbagai unsur masyarakat mencerminkan kuatnya sinergi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Buru berharap tradisi Malam Tujuh Likur dapat terus dilestarikan sebagai agenda tahunan sekaligus menjadi identitas budaya religius masyarakat Buru.
Di bawah cahaya pelita yang menerangi malam Ramadan, masyarakat Buru diingatkan bahwa nilai-nilai spiritual, persaudaraan, dan kebersamaan harus terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Cahaya-cahaya kecil itu bukan sekadar penerang malam, melainkan simbol harapan akan keberlanjutan iman dan persatuan di tengah kehidupan masyarakat.
0 Komentar